
TAWA SASTRA – Deretan pohon yang dahulu menaungi jalan-jalan di Yogyakarta kini mulai berkurang.
Di sejumlah wilayah pinggiran kota, hamparan sawah yang selama puluhan tahun menjadi penyangga lingkungan perlahan berubah menjadi kawasan pembangunan.
Kehadiran proyek jalan tol, pembangunan perumahan, dan ekspansi kawasan komersial memang menawarkan berbagai manfaat, mulai dari peningkatan konektivitas hingga pertumbuhan ekonomi.
Namun di balik pembangunan tersebut, muncul kekhawatiran mengenai nasib ruang hijau yang semakin terdesak.
Liputan ini menelusuri perubahan yang terjadi di sejumlah wilayah, khususnya Kalasan dan sekitarnya, untuk melihat bagaimana pembangunan memengaruhi keberadaan lahan pertanian dan vegetasi yang selama ini menjadi bagian penting dari lanskap Yogyakarta.
Ketika Sawah Berubah Menjadi Proyek
Perubahan wajah Yogyakarta paling mudah terlihat di wilayah pinggiran kota.
Di kawasan Kalasan dan Prambanan, pembangunan jalan tol serta pertumbuhan perumahan baru mengubah bentang alam yang sebelumnya didominasi oleh lahan pertanian.
Wibowo (49), seorang petani yang telah menggarap sawah selama 16 tahun di wilayah Kalasan, mengatakan bahwa perubahan tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dan tidak hanya disebabkan oleh pembangunan jalan tol.
“Kalau dibilang terlihat itu sebenarnya sudah dari dulu, Mbak. Sawah-sawah di sini bukan cuma hilang karena tol, tapi juga karena dibangunnya perumahan akibat perkembangan wilayah itu tadi,” ujarnya.
Menurut Wibowo, dampak yang paling dirasakan petani bukan hanya berkurangnya lahan pertanian, tetapi juga perubahan kualitas lingkungan yang mendukung aktivitas pertanian.
“Macam-macam dampaknya, Mbak. Tapi yang paling kelihatan itu dari segi kualitas air,” katanya.
Perubahan penggunaan lahan dari area pertanian menjadi kawasan terbangun berpotensi memengaruhi sistem resapan air dan ketersediaan sumber air bagi masyarakat maupun petani.
Kondisi ini menjadi perhatian karena sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang kehidupan warga di sejumlah wilayah Sleman.

Pohon-Pohon yang Menghilang
Selain berkurangnya lahan pertanian, perubahan juga terlihat pada jumlah vegetasi di berbagai sudut Yogyakarta.
Pohon-pohon yang dahulu memberikan keteduhan di sepanjang jalan kini mulai berkurang akibat pembangunan infrastruktur, pelebaran jalan, maupun pengembangan kawasan baru.
Alifah (20), warga Kalasan, mengaku melihat perubahan tersebut selama beberapa tahun terakhir.
“Sejauh saya keliling Jogja, iya berkurang. Terutama di daerah Gunungkidul yang entah buat pemukiman atau kawasan wisata,” ujarnya.
Berkurangnya vegetasi juga dirasakan dalam bentuk perubahan suhu lingkungan.
“Kalau siang panas banget. Tapi akhir-akhir ini kalau malam sampai pagi dingin banget, mungkin yang disebut bediding itu,” katanya.
Meski demikian, Alifah menilai pemerintah daerah masih berupaya melakukan penghijauan melalui program penanaman pohon.
“Kalau lihat secara langsung sih aku belum pernah, tapi setahu aku Pemda DIY punya program penghijauan dan penanaman pohon,” tambahnya.
Keberadaan pohon memiliki fungsi penting dalam lingkungan perkotaan, mulai dari menyerap karbon, menurunkan suhu udara, hingga meningkatkan kualitas udara.
Karena itu, berkurangnya vegetasi sering kali menjadi perhatian masyarakat ketika pembangunan terus berlangsung.
Pembangunan untuk Siapa, Lingkungan untuk Siapa?
Pembangunan infrastruktur pada dasarnya merupakan kebutuhan untuk menunjang mobilitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Jalan tol, kawasan permukiman, serta fasilitas publik baru diharapkan mampu meningkatkan aksesibilitas dan mendukung perkembangan wilayah.
Namun, pembangunan juga memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Ketika lahan pertanian dan ruang terbuka hijau semakin berkurang, masyarakat mulai mempertanyakan bagaimana ruang hidup yang sehat dapat tetap dipertahankan di tengah laju pembangunan.
Sejumlah warga menganggap pembangunan merupakan hal yang tidak dapat dihindari.
Akan tetapi, mereka berharap proses tersebut tetap memperhatikan keberadaan ruang hijau yang memiliki fungsi ekologis penting bagi kehidupan masyarakat.

Dampak yang Mulai Terasa
Beberapa dampak lingkungan mulai dirasakan oleh masyarakat, meskipun sulit mengaitkannya secara langsung dengan satu faktor tertentu.
Warga mengeluhkan suhu siang hari yang terasa semakin panas dibandingkan beberapa tahun lalu.
Selain itu, berkurangnya area terbuka juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.
Lahan pertanian dan vegetasi pada dasarnya berfungsi sebagai daerah resapan yang membantu menjaga keseimbangan lingkungan.
Ketika ruang-ruang tersebut berkurang, potensi perubahan kondisi lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Meski demikian, diperlukan data lebih lanjut mengenai luas ruang terbuka hijau, alih fungsi lahan pertanian, serta perubahan kondisi lingkungan untuk mengetahui sejauh mana dampak tersebut terjadi.
Masih Adakah Ruang Hijau untuk Masa Depan?
Di tengah pesatnya pembangunan, ruang hijau di Yogyakarta masih memiliki peluang untuk dipertahankan.
Berbagai ruang publik, taman kota, kawasan persawahan yang tersisa, serta area terbuka lainnya masih dapat berfungsi sebagai penyeimbang lingkungan perkotaan.
Namun, keberadaan ruang terbuka tidak selalu berarti ruang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang hijau yang hidup dan dekat dengan masyarakat.
Salah satu contohnya adalah kawasan Alun-Alun Utara Yogyakarta.
Sebagai salah satu ruang terbuka terbesar di pusat kota, kawasan ini sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi ruang hijau yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar area alun-alun ditutup dan difungsikan sebagai bagian dari penataan kawasan sumbu filosofi dan pelestarian lanskap historis Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kondisi tersebut membuat ruang yang sebelumnya dapat diakses publik menjadi lebih terbatas dan didominasi hamparan pasir tanpa vegetasi yang signifikan.
Situasi ini berbeda dengan Alun-Alun Kidul yang hingga kini masih menjadi ruang sosial masyarakat.
Pada sore hingga malam hari, kawasan tersebut ramai digunakan warga untuk berkumpul, berolahraga, duduk santai, maupun beraktivitas ekonomi melalui pedagang kaki lima.
Meskipun bukan ruang hijau ideal, Alun-Alun Kidul menunjukkan bagaimana ruang terbuka publik dapat tetap berfungsi sebagai tempat interaksi sosial warga kota.
Perbedaan fungsi kedua kawasan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ruang hijau tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang tersedia, tetapi juga menyangkut bagaimana ruang tersebut dikelola dan dimanfaatkan.
Di satu sisi, pelestarian nilai sejarah dan budaya merupakan hal penting bagi Yogyakarta.
Di sisi lain, masyarakat juga membutuhkan ruang terbuka yang nyaman, teduh, dan dapat diakses sebagai bagian dari kualitas hidup perkotaan.
Ketika pembangunan terus berlangsung dan ruang terbuka semakin terbatas, pertanyaan yang muncul bukan hanya berapa banyak ruang hijau yang tersisa, melainkan juga ruang seperti apa yang ingin dihadirkan bagi masyarakat Yogyakarta di masa depan.
Editor: Elisabeth Zelda Indarwan |Cr: Dokumentasi Pribadi