Kpop (Korean Pop) menjadi bagian dari budaya populer global.
Popularitas Kpop tidak hanya memengaruhi industri musik, tetapi juga menginspirasi berbagai karya lain di industri hiburan.
Salah satu karya yang dipengaruhi oleh popularitas Kpop adalah sebuah film animasi yang berjudul KPop Demon Hunters.
Film ini telah tayang di platform Netflix pada Agustus 2025.

Film ini memperlihatkan konsep yang cukup unik, yaitu memadukan dunia idol Kpop dengan kisah fantasi tentang pemburu iblis.
Perpaduan tersebut tentu menjadikan film ini berbeda dari animasi musikal pada umumnya.
Cerita berawal dari sebuah gerbang yang disebut Honmoon.
Honmoon memisahkan dunia manusia dan dunia iblis.
Untuk menjaga keseimbangan kedua dunia, setiap generasi memiliki tiga pemburu iblis yang bertugas melindungi manusia melalui kekuatan suara dan pedang.
Pada generasi kali ini, tugas tersebut dijalankan oleh Huntrix, Kpop girl group yang beranggotakan Rumi, Zoey, dan Mira.
Di balik popularitas mereka sebagai idol, ketiganya memiliki tanggung jawab besar untuk mempertahankan Honmoon dari ancaman Gwi-Ma, raja iblis yang ingin menguasai jiwa manusia.
Konflik mulai berkembang ketika Gwi-Ma membentuk Kpop boy group saingan bernama Saja Boys.
Kelompok ini terdiri atas para iblis yang menggunakan pesona visual dan musik untuk memengaruhi manusia.
Melalui lagu dan suara mereka, para penggemar perlahan kehilangan jiwanya dan menjadi sumber kekuatan bagi Gwi-Ma.
Persaingan antara Huntrix dan Saja Boys tampak seperti kompetisi idol biasa sebenarnya menyimpan pertarungan besar antara kebaikan dan kejahatan.
Selain itu, film ini juga memperlihatkan konflik batin melalui tokoh Rumi.
Sebagai pemburu iblis terkuat, ia menyimpan rahasia bahwa dirinya merupakan manusia setengah iblis. Identitas tersebut ditandai dengan pattern berwarna ungu pada tubuhnya yang selalu ia sembunyikan.
Ketakutan akan penolakan dari penggemar bahkan sahabat-sahabat terdekatnya—Zoey dan Mira— membuat Rumi berusaha menutupi jati dirinya.
Bagian ini lah yang menjadi salah satu daya tarik utama film karena memberikan kedalaman emosional pada cerita.
Dari segi visual, KPop Demon Hunters menampilkan animasi yang mendukung suasana cerita.
Warna-warna cerah, efek cahaya yang dinamis, dan desain karakter yang menarik membuat setiap adegan pertunjukan terasa hidup.
Aura biru dan emas milik Huntrix serta aura ungu milik Saja Boys menjadi simbol visual yang jelas menggambarkan pertarungan antargrup.
Koreografi dan penampilan panggung yang ditampilkan juga berhasil menangkap nuansa konser Kpop.
Aspek musikal menjadi kekuatan lain dari film ini.
Lagu-lagu yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam alur cerita.
Namun, terkadang ada beberapa lirik yang terdengar sedikit aneh, seperti “You’re my soda pop,” dan “I’m done hiding, now I’m shining.”
Di dalam film, musik digunakan sebagai senjata, media komunikasi, sekaligus penggambaran struggle para tokoh.
Penonton yang menyukai Kpop kemungkinan akan merasa lebih mudah menikmati film ini karena banyak elemen yang dekat dengan budaya fandom dan industri idol.
Alur cerita bergerak cukup cepat sehingga beberapa bagian terasa kurang dijelaskan.
Misalnya pada scene Rumi yang tiba-tiba ke rumah sakit karena kehilangan suara.
Tidak dijelaskan penyebabnya, tetapi scene tersebut malah menjadi salah satu kunci alur cerita.
Selain itu, dilihat dari frame rate-nya sedikit patah-patah atau choppy.
Terdapat juga beberapa adegan seperti hasil AI, misalnya ketika Saja Boys menari di panggung, bagian tangan dan kaki meleyot hampir seperti bergelombang.
Secara konsep, dunia fantasi sebenarnya menarik, tetapi terkadang hanya dijelaskan secara singkat sehingga pastinya akan ada pertanyaan bagi penonton.
Film ini juga membawa pesan moral.
Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya kejujuran dan menerima diri sendiri.
Melalui karakter Rumi, penonton diajak memahami bahwa identitas dan masa lalu seseorang tidak selalu menentukan siapa dirinya di masa depan.
Secara keseluruhan, KPop Demon Hunters merupakan film animasi yang kreatif dan menghibur.
Perpaduan antara musik Kpop, aksi fantasi, humor, dan konflik emosional menciptakan pengalaman menonton yang menarik.
Ditambah dengan lagu-lagunya yang easy listening, meskipun masih memiliki beberapa kekurangan.
Film ini cocok bagi penggemar Kpop, pencinta animasi fantasi, remaja, dan anak-anak dengan bimbingan orang tua.
Namun, penonton non-Kpopers pun tetap dapat menikmati film ini karena konflik dan pesan yang diangkat bersifat universal. Recommended dengan rating 8/10.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UAS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: kpopdemonhuntersnetflix, thedirect