TAWA SASTRA – Dulu ketika kita ingin memberikan komentar terhadap suatu menu yang baru saja kita coba, kita akan langsung lakukan secara tatap muka.
Namun di era digital sekarang, mayoritas beralih menggunakan cara mengunggah video pendek di media sosial yang sangat mengandalkan aspek visual dan emosional.
Dunia kuliner kita hari ini tak lagi sekadar soal mencicipi rasa di lidah, melainkan tentang bagaimana rasa itu dikonstruksi melalui layar gadget.

Seiring menjamurnya food vlogger di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, kita menyaksikan lahirnya sebuah gaya komunikasi baru.
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian informasi, tetapi bertransformasi menjadi “bumbu penyedap” yang sering kali lebih tajam daripada rasa aslinya.
Para food vlogger sering kali menggunakan majas hiperbola ketika mendeskripsikan cita rasa menu yang mereka pesan.
Hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan berlebih-lebihan untuk menekankan sesuatu yang dimaksud.
Majas hiperbola adalah alat komunikasi bagi food vlogger untuk menjelaskan bagaimana cita rasa dari menu yang Ia pesan agar audiens yang menyaksikan dapat membayangkan rasanya.
Rasa yang Dilebih-lebihkan
Mungkin kita sering memperhatikan diksi-diksi khas yang digunakan food vlogger ketika me-review menu yang Ia icip.
Tentu kita sudah tak asing dengan kalimat berikut,
“Donatnya enak banget, mau meninggal.” atau “keju yang di dalam baksonya tu langsung meledak di mulut.”
ada juga, “selai coklatnya lumer banget setelah masuk ke mulut. Bener-bener surga dunia nikmatnya.”
Penggunaan ungkapan ini bertujuan untuk memberikan efek dramatis.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi bahasa.
Kata-kata tersebut tidak lagi berfungsi deskriptif yang menggambarkan realita dari rasa, tetapi difungsikan sebagai performatif untuk menaikan engagement rate di media sosial mereka.
Hiperbola digunakan untuk memancing reaksi emosional audiens agar tetap menonton hingga akhir di tengah arus algoritma yang sangat cepat.
Krisis Diksi dalam Mengulas Kuliner
Ketika hampir semua kuliner yang diulas disebut sebagai “surga dunia” atau “paling juara”, maka kata-kata tersebut perlahan kehilangan makna aslinya.
Makna kata “enak” yang sederhana menjadi terasa hambar dan tidak laku di pasar digital.
Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) mungkin menyediakan ribuan kata sifat, tetapi di dunia maya, kosakata kita seolah menyusut menjadi rangkaian istilah bombastis yang itu-itu saja.
Ini adalah tantangan kita dalam kreativitas berbahasa.
Kita menjadi terjebak dalam klise verbal yang hanya mengejar engagement rate daripada kejujuran dalam mengulas kuliner.
Jangan Telan Mentah-mentah Review Manis Food Vlogger
Penggunaan majas hiperbola oleh food vlogger sebenarnya adalah adaptasi bahasa terhadap teknologi.
Hal ini adalah bentuk retorika modern yang sah-sah saja dalam ranah hiburan di media sosial.
Namun, sebagai audiens yang memerlukan informasi, kita perlu teliti dalam literasi kebahasaan untuk menyaring mana deskripsi yang faktual dan sekadar hiasan retoris.
Bahasa pada dunia kuliner seharusnya mampu mengekspresikan keberagaman rasa tanpa harus selalu dilebih-lebihkan.
Pada akhirnya, esensi dari sebuah ulasan bukan terletak pada seberapa “wah” kata-kata yang digunakan untuk menggugah selera penonton.
Penting juga bahwa kita harus bisa melihat seberapa jujur Ia menjelaskan rasa yang dicicipi pada sebuah menu.
Sudah saatnya kita mengembalikan fungsi bahasa sebagai penjelasan rasa yang jujur dan bukan sekadar dramatisasi yang tidak sesuai kenyataan di atas meja makan.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: pinterest, pinterest