TAWA SASTRA – Di Yogyakarta, kafe tumbuh hampir tanpa jeda, seolah-olah setiap sudut kota sudah menjanjikan peluang yang sama.
Kumparan.com mencatat sekitar 3.500 coffee shop tersebar di kota ini, sementara Kompasiana.com menunjukkan lonjakan pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Di banyak kawasan, terutama sekitar kampus, beberapa kafe berdiri berdampingan dan semua terlihat ramai.
Namun, di balik pemandangan tersebut, muncul satu persoalan yang lebih mendasar, apakah keramaian itu benar-benar mencerminkan kesehatan ekonomi usaha?
Keramaian sering kali dianggap sebagai wujud keberhasilan. Kursi yang terisi penuh dan antrean pelanggan memberi kesan bahwa bisnis berjalan baik.
Padahal, kondisi ini tidak selalu berarti sebuah keuntungan. Biaya operasional seperti sewa tempat, bahan baku yang terus naik, serta tenaga kerja, tetap harus dibayar setiap hari.
Di sisi lain, jumlah pelaku usaha yang semakin banyak membuat persaingan menjadi sangat ketat.
Kontan.co.id juga menyoroti bahwa bisnis kopi kini berada dalam kondisi kompetitif yang tinggi dan menuntut strategi yang matang agar bisa bertahan.
Permintaan yang menopang keramaian tersebut tidak sepenuhnya stabil.
Mayoritas konsumen coffee shop adalah mahasiswa dan pekerja lepas, kelompok yang sangat dipengaruhi tren dan memiliki daya beli yang terbatas.

Dalam situasi ini, kunjungan ke kafe sering kali didorong oleh gaya hidup dan media sosial, bukan kebutuhan yang konsisten.
Akibatnya, lonjakan pengunjung bisa terjadi dalam waktu tertentu, tetapi tidak menjamin keberlanjutan pemasukan.
Fenomena ini mengarah pada apa yang bisa disebut sebagai ilusi keramaian. Kafe tampak hidup dan penuh, tetapi secara ekonomi belum tentu kuat.
Bahkan, tidak sedikit usaha yang hanya bertahan dalam waktu singkat sebelum akhirnya tutup dan digantikan oleh yang baru.
Pergantian ini sering luput dari perhatian karena tertutup dengan kafe-kafe baru yang terus bermunculan.
Redaksi menilai bahwa persoalan utama dari menjamurnya kafe di Jogja bukan sekadar jumlahnya, melainkan ketidakseimbangan antara persepsi dan realitas ekonomi.
Keramaian yang terlihat sering kali menyamarkan kondisi usaha yang sebenarnya belum kuat.
Tanpa perencanaan yang matang, keunikan yang jelas, dan pemahaman pasar yang tepat, bisnis kafe berpotensi hanya bertahan sebagai tren sementara.
Yang perlu menjadi perhatian bukan lagi seberapa banyak kafe yang bisa dibuka, tetapi seberapa banyak yang benar-benar mampu bertahan.
Dalam dunia usaha, keberlanjutan jauh lebih penting daripada keramaian sesaat.
Keramaian mungkin akan terus bertambah, tetapi tanpa keberlanjutan, pertumbuhan itu hanya akan menjadi siklus yang berulang.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: Pinterest