Strategi Mahasiswa Perantau Bertahan Hidup di Tanah Orang dengan Suntikan Dana dari Orang Tua

Reading Time: 5 minutes

TAWA SASTRA – TawaS kali ini berkesempatan untuk berbincang dengan beberapa mahasiswa perantau di Yogyakarta terkait strategi mereka dalam mengoptimalkan suntikan dana dari orang tua. 

Nominal yang jauh dari kata mewah mampu dikelola dengan berbagai macam cara. 

Dengan adanya strategi yang mereka terapkan untuk berhemat, TawaS jadi tahu bahwa berhemat tak harus menyiksa diri.

Di sebuah gang, ada ruko bertuliskan tattoo and hair cut studio

Tepatnya di Jl. Moses Gatot Kaca B21, di sana-lah seniman tato yang sekaligus seorang mahasiswa Sanata Dharma tersebut tinggal dan beraktivitas. 

Mindo Sidauruk, nama pemberian ayah dan ibunya yang kata ia lebih indah dari nama program pemerintah yaitu MBG.

Uang saku yang diberikan orang tuanya tak pernah menentu, kadang ia dapat kiriman kadang juga tidak. 

Namun, itu semua tak mematahkan semangatnya untuk menempuh kuliah di Yogyakarta yang katanya kota Pendidikan. 

Ia menekuni hobinya yaitu melukis. Dari hobi ini dia mulai menjelajahi seni melukis lainnya, yaitu melukis tubuh atau yang kerap juga disebut  tato. 

”Ya, kerja itu bagian strategi untuk mendapatkan uang karena kalo mengharapkan orang tua gak bisa mendapatkan lebih sehingga saya bekerja biar bisa mendapatkan uang lebih” ujarnya. 

Dari tato ia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya di Yogyakarta. Orang tuanya hanya menanggung biaya kuliah yang tak lagi murah bagaikan barang mewah kesukaan si Kaya. 

Strategi tersebut lahir dari anak yang berupaya memahami kondisi  finansial orang tuanya. Begitulah cara Mindo mengatur strategi berbekal dari pengalaman merantau sejak SMP hingga sekarang. 

Jauh dari orang tua sudah menjadi  hal biasa bagi pemuda ini.

Mahasiswa yang Bekerja dengan Pendapatan Tak Menentu

Pendapatan Mindo sebagai seniman tato cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari di Yogyakarta. Jika sedang ramai, tak sulit untuk mencapai nominal 3 hingga 5 juta perbulannya. 

Namun dunia kerja tak selalu mulus. Ada kalanya kesunyian menghampiri studio miliknya, dan saat sunyi inilah lahir kegusaran hati. 

Saat sepi pendapatannya hanya berkisar 1,5 juta saja yang di mana  nominal tersebut adalah  keramat. Sebab ia masih harus memikirkan sewa ruko, makan, dan kebutuhan sehari hari lainnya. 

Saat situasi ini hadir dalam hidupnya, mau tak mau strateginya juga harus berubah.

“Biasanya kalau lagi sepi, paling saya memaksakan promo harga murah. Biasanya untuk menato teman-teman, saya paling dibayar dengan rokok atau dibayar dengan makan. Seperti itu.” Ucapnya sembari menghisap sebatang rokok sedalam-dalamnya. 

Bahkan, kadang ia tak punya pilihan selain meminta uang dari orang tua. 

“Yah, jika tak punya pilihan, saya juga akan minta orang tua. Tapi saya tidak terpaku terhadap  orang tua” tambahnya, menegaskan bahwa ia tak bergantung penuh pada orang tuanya. 

Beasiswa Menjadi Pilihan

Daniel, mahasiwa perantau dari Sumatra yang menerima beasiswa. Ia menyatakan biaya hidup mampu ditekan dengan adanya program beasiswa dari kampusnya. 

“Uang saku tuh dapat dua setengah juta tiap bulannya” tuturnya. 

Dengan uang saku yang diperoleh dari beasiswa tersebut, ia mampu mengelolanya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti biaya makan dan uang sewa kost. 

Terkadang, ia masih meminta dari orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan jika uang saku dari beasiswa tersebut dirasa kurang. 

Selain uang saku dan uang kuliah, penerima beasiswa ini juga memperoleh uang buku yang sebagai kebutuhan pendukung akademik, seperti membeli kebutuhan alat tulis, buku, dan untuk keperluan tugas. 

“Dan ada juga uang buku yang dikasih tiap semester. Itu dikasih tiga juta per semester” tambahnya lagi.

Dengan biaya sebesar itu, tentu cukup untuk kebutuhan mahasiswa. Daniel tak perlu lagi khawatir dengan sejumlah dana yang harusnya ia keluarkan demi biaya pendidikan dan biaya hidup. 

Pemilihan beasiswa ini adalah strategi yang matang dari mahasiswa dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan guna mencukupi kebutuhan pendidikan.

Strategi berhemat dilakukan dengan membuat perencanaan keuangan yang tertata sejak jauh hari. 

Dengan menyusun anggaran dan memprioritaskan kebutuhan, pengeluaran dapat lebih terkontrol sehingga membantu meminimalisir terjadinya pemborosan.

Daniel adalah bukti hidup, bahwa strategi bukan hanya tentang apa yang akan dilakukan di kemudian hari, tetapi juga apa yang dilakukan sebelum hari itu tiba.

Tinggal di Rumah Nenek untuk Menekan Biaya

Raras (17), mahasiswa tahun pertama yang mengaku mengalami kesulitan untuk beradaptasi di Yogyakarta karena ini merupakan pengalaman pertamanya tinggal jauh dari orang tuanya.

“Strateginya lebih ke, eeee. Saya punya spreadsheet isinya tuh saya bagi, kayak bensin itu sebulan 100 ribu, terus misal saya harus belanja bulanan mungkin kurang lebih 500 ribu, atau kayak kolekte 200 ribu gitu” pungkasnya. 

Selain itu, ia juga tinggal di rumah  nenek. Ia menyatakan bahwa orang tuanya yang memilih ia untuk tinggal di rumah nenek. Strategi ini dipilih oleh orang tuanya agar lebih hemat. 

“Sebenarnya, papah mamah tetap bayar listrik nenek, yah untuk bayar nenek gitulah” celetuk mahasiswa kelahiran Jember  ini. 

Orang tua juga bisa ambil bagian dalam hal pemilihan strategi. Seperti pengalaman Raras yang tinggal di rumah nenek dengan membayarkan uang listrik saja. 

Untuk sarapan tiap pagi, nenek sudah menyediakannya. Bak tuan putri kerajaan yang disajikan sarapan. 

Ia juga menyatakan bahwa makan malam dan jajan, ia tetap sama seperti anak kos pada umumnya.

“Saya kalau keperluan kampus tetap minta pada orang tua. Ngerti gak sih?” Celetuknya diselingi tawa kecil dari bibir manisnya. 

Ia menyampaikan bahwa kebutuhan yang bersifat mendadak untuk keperluan kampus, seperti membeli seragam korsa atau buku, masih menjadi tanggungan orang tuanya.

Ini bagian dari strategi Raras agar uang sakunya tidak berkurang sepeserpun untuk kebutuhan kampus. 

“Kamu udah dikasih segini, tapi masih tetap minta” begitulah keluhan orang tua Raras tiap kali Raras melimpahkan kebutuhannya kepada orang tua.

“Yah, udah sih tetap dibayar sih, aman” tambah putri kecil ini.

Memasak untuk Makan Sehari-hari agar Lebih Hemat

Selain strategi di atas, masih ada mahasiswa yang memilih berhemat dengan cara memasak daripada membeli makanan. Mereka merasa rugi jika membeli lauk padahal mereka sendiri bisa masak.

Salah satunya adalah Agnes Limbong (17) yang merupakan mahasiswa tahun pertama asal Tapanuli, Sumatra Utara. 

Ia diberi jatah uang saku yang bukan berikan setiap bulan seperti mahasiswa rantau pada umumnya, melainkan setiap minggu. 

Bermodalkan uang saku ini, ia memenuhi bahan-bahan pokok yang akan diolah menjadi makanan. 

Meskipun jauh dari orang tua dan suntikan dana yang seadanya, ia tetap bersyukur karena mendapat kesempatan berkuliah di Yogyakarta dengan kondisi seperti ini.

“Apalagi masih tahun pertama kan, jadi kebutuhan masih seputar makan, belum ada kayak untuk tugas nge-print yang banyak gitu” cetus Agnes.

Pengeluaran Agnes selama berkuliah yang belum genap setahun ini masih bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Bahkan ia masih sempat self reward dengan uang yang ada.

Dengan kemampuan memasak dan strategi yang dimiliki, ia mampu membendung keluhan orang tuanya. 

Hal tersebut bisa terjadi karena Agnes termasuk orang yang hemat dan mandiri. Tak ada rasa frustrasi yang timbul akibat uang saku.

Pastinya, frustrasinya hilang seperti sajian makanan yang ia masak lalu ia santap.

Beberapa kisah di atas adalah sajian segelintir kisah dari mahasiswa dengan strategi yang mereka miliki. 

Kisah mereka juga dapat menjadi inspirasi, di mana uang saku yang minim bukanlah alasan untuk menyerah pada masa menjalani dunia pendidikan. 

Di tengah mahalnya biaya kuliah, ragam strategi teman-teman perantau ini menjadi relevan.

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, peribahasa yang sangat dekat dengan mahasiswa/i perantau ini. 

Pendidikan terasa sangat berharga bagi mereka, sehingga mereka rela melakukan banyak upaya agar mampu merengkuh gelar sarjana yang mereka impikan.

Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: Dokumen pribadi

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *