Bagi sebagian mahasiswa, kuliah sering dianggap sebagai perlombaan mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) setinggi mungkin agar setelah lulus bisa cepat mendapatkan pekerjaan. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah.
Namun, jika kuliah hanya berfokus pada nilai akademik, ada banyak pengalaman penting yang justru terlewat selama masa perkuliahan.
Realitas dunia kerja saat ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak lagi hanya melihat angka di transkrip nilai.
Dalam laporan “Prospek Pekerjaan 2025” dari National Association of Colleges and Employers (NACE), disebutkan bahwa hanya sekitar 38% pemberi kerja yang menggunakan IPK sebagai salah satu syarat seleksi utama.
Sebaliknya, sekitar 65% perusahaan lebih mengutamakan keterampilan atau pengalaman kerja, seperti magang, freelance, atau pengalaman organisasi.
Kalau dilihat lebih jauh lagi, keterampilan yang dicari perusahaan juga gak selalu berkaitan dengan nilai akademik. Survei NACE menunjukkan bahwa beberapa kualitas utama yang diharapkan dari lulusan perguruan tinggi adalah kemampuan komunikasi, kejujuran, kemampuan bekerja sama, serta kualitas kerja yang baik.
Selain itu, kemampuan berorganisasi juga termasuk dalam daftar kualitas yang dinilai penting.
Hal ini menunjukkan bahwa soft skills menjadi bekal yang semakin penting buat mahasiswa. Sayangnya, kemampuan tersebut tidak selalu bisa diperoleh hanya melalui kegiatan perkuliahan di kelas.
Di sinilah organisasi mahasiswa sering menjadi ruang belajar yang berbeda dari pembelajaran akademik. Jika di ruang kelas mahasiswa lebih banyak mempelajari teori, kegiatan organisasi memberi banyak kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung.
Contohnya, mahasiswa terlibat dalam penyusunan program kerja, pelaksanaan kegiatan, hingga proses evaluasi.

Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar mengelola tanggung jawab, bekerja dalam tim, menyelesaikan konflik, hingga melatih kemampuan kepemimpinan.
Pengalaman ini dapat membentuk karakter mahasiswa menjadi lebih disiplin, mandiri, dan mampu berkomunikasi dengan berbagai pihak.
Penelitian yang dilakukan oleh Rizky Firdausz dan Fuad Mas’ud dalam Jurnal Diponegoro Journal of Management juga menunjukkan bahwa mahasiswa bergabung dalam organisasi kampus karena berbagai motivasi, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.
Beberapa di antaranya adalah keinginan untuk mengembangkan bakat, menyalurkan minat, memperluas wawasan, serta mendekatkan diri pada cita-cita yang dimiliki.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa mahasiswa yang aktif di organisasi cenderung memiliki kemampuan soft skills yang lebih baik, terutama dalam hal berinteraksi dengan orang lain, menerima perbedaan latar belakang, serta mengorganisasi kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
Tapi, tidak semua mahasiswa memilih untuk aktif di organisasi. Sebagian mahasiswa lebih memilih fokus pada akademik atau merasa kesulitan mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan lain.
Ada juga yang merasa lebih nyaman memiliki waktu luang dibandingkan harus terlibat dalam berbagai aktivitas organisasi.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif di organisasi umumnya merasakan manfaat berupa pengalaman yang lebih banyak dan jaringan pertemanan yang lebih luas, meskipun mereka harus menghadapi tantangan dalam mengatur waktu.
Sebaliknya, mahasiswa yang tidak aktif di organisasi cenderung memiliki waktu yang lebih longgar, tapi memiliki pengalaman dan relasi yang lebih terbatas.
Everlin, mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2023 di Universitas Sanata Dharma (USD), berpendapat bahwa organisasi menjadi tempat belajar yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah.
“Selama organisasi, aku bisa mengembangkan jiwa kepemimpinan. Jadi tahu rasanya memimpin banyak orang dengan sifat yang berbeda-beda. Selain itu juga jadi lebih berani berbicara di depan banyak orang dan menambah relasi,” katanya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Galuh, mahasiswa Elektromedis USD angkatan 2024. Awalnya, organisasi hanya dijalani karena rekomendasi dari alumni. Namun, setelah terlibat dalam kegiatan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), banyak perubahan yang dirasakan.
“Setelah bergabung di BEM rasanya hidup jadi lebih terarah. Jadi lebih tahu skala prioritas dan belajar mengatur waktu antara kegiatan kuliah dan organisasi. Selain itu juga jadi lebih percaya diri untuk berinteraksi dengan orang baru dan bahkan memimpin program kerja,” jelasnya.
Di tengah diskusi mengenai pentingnya organisasi, muncul pula pandangan bahwa pengalaman profesional seperti magang, freelance, atau pekerjaan paruh waktu juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa.
Content creator edukasi kampus, Kelana Fahri, penerima Beasiswa Unggulan, pernah menyampaikan bahwa pengalaman kerja sering menjadi pertimbangan utama industri ketika merekrut lulusan baru.
Pengalaman organisasi tetap memiliki nilai tersendiri karena di dalamnya mahasiswa belajar berbagai keterampilan yang tidak selalu didapatkan di tempat lain, seperti kepemimpinan, kerja tim, manajemen waktu, dan kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Kegiatan organisasi emang bukan satu-satunya jalan untuk mengembangkan diri di kampus. Namun, bagi banyak mahasiswa, organisasi justru menjadi wadah yang paling nyata untuk memahami bagaimana bekerja bersama orang lain, menghadapi perbedaan karakter, serta mengelola tanggung jawab dalam sebuah tim.
Oleh karena itu, kuliah bukan hanya tentang seberapa tinggi IPK yang berhasil dicapai, tapi juga tentang pengalaman apa saja yang berhasil dipelajari selama prosesnya.
Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mampu secara akademik, tapi juga mampu beradaptasi, berkomunikasi dengan baik, dan bekerja sama dengan orang lain.
IPK emang penting, tapi pengalaman juga gak kalah penting. Soalnya, kalau udah masuk ke dunia kerja, yang sering menjadi pertanyaan bukan hanya tentang nilai akademik, tapi juga tentang pengalaman dan keterampilan yang dimiliki selama menjalani masa perkuliahan.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | cr: dokumen pribadi


Tinggalkan Balasan