TAWA SASTRA – YOGYAKARTA – Kantin kampus selalu memiliki anatomi ruangnya sendiri dalam ingatan setiap mahasiswa.
Ia bukan sekadar deretan bangku kayu dan meja panjang tempat perut-perut lapar diisi setelah dihajar materi kuliah yang teoretis dan memusingkan.
Lebih dari itu, kantin adalah ruang katarsis.
Di sanalah tawa pertemanan, keluh kesah soal tumpukan revisi skripsi, hingga kesunyian patah hati tumpah menjadi satu.
Dan di salah satu sudut kantin kampus kita, denyut nadi kehidupan itu dijaga oleh kepulan uap kaldu dan seorang pria bersahaja yang akrab disapa Mas Kiplek.
Namun, kalau Anda menelusuri kartu identitasnya, Anda tidak akan menemukan nama “Kiplek”. Pria ramah ini sesungguhnya bernama Nandar.
Nama “Kiplek” hanyalah sebuah paraban atau julukan akrab yang disematkan oleh teman-teman sepermainannya di kampung halamannya, Gunung Kidul.
Uniknya, saat ditanya mengenai sejarah atau makna di balik nama tersebut, ia sendiri hanya
tertawa dan mengaku tidak paham.
Namun, entah bagaimana, julukan yang tak bermakna itu justru melekat dan menjadikannya sosok yang tak berjarak dengan ribuan mahasiswa yang datang silih berganti.
Meneruskan Estafet Almarhum Dab Supri

Bagi mahasiswa lintas angkatan, lapak yang kini dijaga oleh Mas Kiplek (atau Mas Nandar ini) bukanlah lapak sembarangan.
Ia berdiri dan meneruskan napas dari sebuah nama besar yang melegenda di hati banyak alumni: almarhum Dab Supri.
Meneruskan estafet warung makan dari sang paman tentu bukan perkara mudah. Ada memori kolektif dan standar rasa masa lalu yang harus dijaga dengan hati-hati.
Dalam obrolan santai pada suatu sore yang mendung, Mas Kiplek menceritakan sejarah evolusi lapaknya.
Kalau pada zaman almarhum pamannya dan ibunya lapak ini murni hanya menjual bakso, Mas Kiplek memberanikan diri untuk memperluas cakrawala rasa.
“Mulai tahun 2008 itu, saya sudah nyadar dan mulai nambahin menu baru-baru lagi. Sebelumnya kan memang bakso tok (saja), sekarang ada mi ayam biasa, mi ayam bakso, ekstra tetelan, sampai porsi jumbo,” ungkapnya sambil mengaduk mi di dalam panci didih.
Lewat racikan bumbunya, ia membuktikan bahwa warisan tidak melulu soal mempertahankan yang lama secara kaku.
Namun, tentang keberanian untuk berinovasi merangkul selera generasi baru, tanpa harus mencabut akar rasanya.
Sapaan Nyeleneh yang Meruntuhkan Sekat

Daya tarik utama lapak ini sesungguhnya melampaui urusan perut.
Rahasia terbesar Mas Kiplek ada pada kecerdasan sosial yang ia bangun di balik etalase kaca gerobaknya.
Siapa pun yang pernah memesan mi ayam di sini pasti familier dengan sapaan-sapaannya yang kocak, spontan, dan sering kali nyeleneh.
Bagi sebagian orang awam, sapaan yang terlalu santai mungkin terdengar kurang formal.
Namun, di tangan Mas Kiplek, sapaan itu menjelma menjadi instrumen ampuh untuk meruntuhkan tembok hierarki.
“Tujuannya ya biar supaya mahasiswa itu lebih dekat dengan kita. Jadi biar bisa akrab banget, nggak ada sekat,” jelasnya dengan senyum tulus.
Dalam dunia akademis yang acap kali terasa dingin dan kaku oleh batasan nilai, relasi dosen-mahasiswa, hingga tekanan birokrasi, pendekatan Mas Kiplek adalah sebuah oase.
Ia secara sadar membongkar batasan transaksional ala kapitalis.
Mahasiswa yang datang tidak lagi merasa seperti konsumen anonim yang sekadar menukar lembaran uang dengan semangkuk makanan.
Melainkan layaknya seorang adik perantau yang baru pulang ke rumah dan disambut oleh kakak laki-lakinya sendiri.
Posko Darurat Psikologis: Sharing is Caring
Kedalaman empati pria asal Gunung Kidul ini paling terasa ketika jam makan siang usai dan kantin mulai beranjak lengang.
Ia memiliki kepekaan batin untuk mengenali raut wajah mahasiswa yang sedang dihantam kerasnya realitas hidup.
Kalau ia melihat ada anak muda yang duduk melamun sendirian di pojokan kantin sambil mengaduk-aduk es tehnya dengan tatapan kosong,
Mas Kiplek tidak akan segan untuk meninggalkan gerobaknya dan duduk menemani.
“Melihatnya ya kasihan aja sih, Mas. Banyak pikiran kuliah, masalah privasi. Yang penting kita itu selalu beri support buat dia, ngasih nasihat gimana caranya biar dia bisa nge-fresh-in pikirannya lagi, biar nggak terlalu pusing mikirin soal kuliah,” tuturnya dengan nada suara yang melembut.
Ia kemudian menutup penjelasannya dengan sebuah frasa bahasa Inggris yang meluncur fasih dari bibirnya, “Ya intinya, sharing is caring lah.”
Di meja kantin yang kadang masih berbekas noda kecap itulah, berbagai rahasia tumpah ruah.
Mulai dari masalah IPK yang anjlok, kiriman uang bulanan yang tersendat, hingga kecemasan akan masa depan setelah lulus.
Mas Kiplek sadar betul bahwa lapaknya telah beralih fungsi menjadi semacam posko darurat psikologis.
Dan ia ikhlas menjalankan peran itu.
Luwih Okeh Sedulur dan Falsafah Sawang-Sinawang

Bagi Mas Kiplek, mahasiswa bukanlah deretan angka omzet harian.
Hubungan yang ia jalin didasari oleh ketulusan yang menembus hitung-hitungan dagang.
Ia menganggap mahasiswa yang lalu lalang di kantinnya sebagai keluarga.
Sebuah falsafah Jawa kuno meluncur menggenapkan pandangannya tentang hidup dan pertemanan. “Luwih akeh konco, luwih akeh sedulur, daripada akeh musuh,” ucapnya mantap.
Baginya, memiliki banyak teman dan saudara dari berbagai daerah yang merantau ke Jogja adalah kekayaan yang jauh melebihi materi.
Tahun-tahun perkuliahan pada akhirnya akan menemui garis finis.
Mahasiswa akan silih berganti; yang senior akan mengenakan toga, sementara yang baru akan datang dengan kepolosannya.
Ketika ditanya tentang apa yang ia harapkan dari para mahasiswa yang kelak lulus dan meninggalkan Jogja, jawaban Mas Kiplek sangatlah puitis.
Ia menyebut istilah sawang-sinawang (saling melihat dan merefleksikan nasib).
Ia berharap, di masa depan, anak-anak didik di kantin ini akan selalu mengingat lapaknya sebagai ruang aman tempat mereka pernah menjahit luka, meredam lelah, dan berbagi cerita.
Di tengah laju modernisasi yang sering kali membuat manusia semakin individualis, warung mi ayam Mas Kiplek membuktikan satu hal fundamental.
Pertolongan pertama pada kesepian seorang perantau itu selalu ada; tersembunyi manis di balik sapaan nyeleneh, telinga yang ikhlas, dan semangkuk kuah kaldu yang menghangatkan jiwa.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: Dokumentasi Pribadi Penulis