Bahasa yang Rapuh dalam Narasi Gencatan Senjata

Reading Time: 2 minutes

TAWA SASTRA – Pemberitaan mengenai gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan satu hal yang menarik. 

Bukan hanya konflik yang rapuh, tetapi juga bagaimana bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan realitas tersebut.

Kondisi bangunan yang hancur diserang Israel di Kota Tirus, Lebanon.

Judul seperti “AS-Iran Gencatan Senjata nan Rapuh” secara langsung membentuk pandangan pembaca bahwa perdamaian tersebut tidak kekal atau bersifat sementara.

Dalam kacamata kebahasaan, penggunaan diksi “rapuh” bukan merujuk sebagai kata netral. 

Kata ini mengandung muatan evaluatif, mengarahkan pembaca pada penilaian tertentu, bahkan sebelum memahami isi berita secara utuh. 

Ini menunjukkan bahwa bahasa dalam jurnalistik tidak bersifat sepenuhnya objektif, melainkan turut membingkai realitas melalui ragam diksi yang digunakan.

Selain itu, penggunaan istilah seperti “eskalasi”, “ketegangan”, dan “serangan balasan” memperkuat kesan konflik yang berkelanjutan. 

Secara semantis, kata-kata tersebut memiliki medan makna yang sama yaitu kekerasan dan instabilitas, yang dapat membentuk kohesi leksikal yang konsisten. 

Bagaimana Akibatnya? 

Akibatnya, pembaca tidak hanya menerima informasi, tetapi juga merasakan nuansa konflik yang mendalam.

Menariknya, struktur kalimat dalam berita semacam ini cenderung menggunakan bentuk pasif, seperti “serangan dilancarkan” atau “kesepakatan dicapai”. 

Secara gramatikal, bentuk ini menghapus kehadiran pelaku dan memfokuskan pada peristiwa yang terjadi sebagai pusat perhatian.

Dalam analisis wacana kritis, strategi ini dapat dipahami sebagai upaya menjaga netralitas sekaligus menghindari penegasan tanggung jawab secara langsung.

Di lain sisi, kehadiran kutipan dari pejabat atau sumber resmi berfungsi sebagai pembenaran dalam suatu wacana. 

Namun, kutipan tersebut sering dipilih secara selektif sehingga tetap berada dalam kerangka narasi yang dibangun media. 

Dengan demikian, objektivitas yang ditampilkan sebenarnya merupakan konstruksi yang sudah terkurasi.

Dari sini terlihat bahwa bahasa dalam berita bukan sekadar alat penyampai fakta, melainkan alat pembentuk makna. 

Gencatan senjata mungkin terjadi di lapangan, tetapi dalam teks, ia tetap diproduksi sebagai sesuatu yang tidak stabil. 

Dengan kata lain, realitas konflik tidak hanya berlangsung secara militer, tetapi juga secara linguistik.

Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/04/10/120506070/as-iran-gencatan-senjata-nan-rapuh?source=wp_berita_terbaru

Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: Kompas.com, Youtube

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *