TAWA SASTRA – Gunung Arjuno yang berada di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Pasuruan, Jawa Timur, sedang menjadi perhatian publik (07/04/2026).

Gunung dengan ketinggian 3.339 mdpl ini ramai diperbincangkan setelah muncul rencana pembangunan kawasan Real Estate di Lereng Arjuno–Welirang.
Dengan keindahan alam yang ada, rencana pembangunan tersebut sangat meresahkan para warga bahkan wisatawan yang ingin berkunjung.
Rencana tersebut menuai penolakan dari ribuan warga di wilayah Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Masyarakat menilai proyek pembangunan ini berpotensi merusak lingkungan.
Selain itu, dapat mengganggu keseimbangan ekosistem pegunungan yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga sekitar.
Warga juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap keberadaan sumber mata air di kawasan Lereng Gunung Arjuno.
Wilayah ini dikenal sebagai daerah resapan air yang sangat penting bagi kebutuhan sehari-hari dan bagi sektor pertanian.
Dampak Lain dari Pembangunan Wilayah
Perubahan fungsi lahan dikhawatirkan akan mengurangi ketersediaan air serta meningkatkan risiko bencana seperti longsor dan banjir.
Penolakan tidak hanya datang dari masyarakat setempat, tetapi juga dari aktivis lingkungan dan komunitas pecinta alam.

Mereka menilai pembangunan di kawasan pegunungan berpotensi merusak jalur pendakian, mengganggu habitat satwa dan tumbuhan, serta menurunkan nilai konservasi kawasan.
Dampak lain yang dikhawatirkan adalah pada sektor pariwisata.
Selama ini, Gunung Arjuno menjadi salah satu tujuan utama wisata alam bagi para pendaki.
Jika pembangunan terus dilakukan, keasrian alam yang menjadi daya tarik utama bisa berkurang dan berimbas pada penurunan jumlah wisatawan dan pendaki Gunung Arjuno-Welirang.
Para pelaku usaha lokal, seperti penyedia jasa pendakian dan pedagang sekitar, juga menyatakan kekhawatiran terhadap potensi penurunan pendapatan dengan adanya pembangunan Real Estate.
Mereka menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata yang bergantung pada kelestarian alam Gunung Arjuno.
Hingga saat ini, keputusan terkait proyek pembangunan tersebut masih belum final.
Rencana tersebut masih simpang siur dan akan pembahasan ulang dari pihak Pansus Real Estate.
Berbagai pihak berharap pemerintah dan pengembang dapat mempertimbangkan dampaknya, sebelum melanjutkan rencana pembangunan di kawasan Lereng Gunung Arjuno.
Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan, terutama di kawasan yang memiliki nilai ekologis dan pariwisata yang tinggi.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: pinterest, dokumen pribadi, nuansa jatim


Tinggalkan Balasan