TAWA SASTRA – Bagi sebagian besar wisatawan yang bertandang ke Yogyakarta, magnet utama kota ini biasanya berpusat di utara hingga tengah.
Pesona Gunung Merapi, romansa Jalan Malioboro, kemegahan Tugu Pal Putih, hingga keraton.
Namun, kalau kita mau membedah anatomi kota ini lebih dalam, Yogyakarta sesungguhnya dibangun di atas sebuah garis filosofis yang membentang lurus dari utara ke selatan.
Garis imajiner ini menyimpan makna siklus kehidupan manusia, atau dalam bahasa Jawa disebut sangkan paraning dumadi.
Di ujung utara, Tugu menjadi perlambang penciptaan. Sedangkan di ujung selatan, berdiri sebuah bangunan kubus yang sunyi namun gagah, menjadi titik awal perjalanan manusia dari lahir hingga dewasa.
Bangunan itu secara administratif sering dicatat di peta pariwisata sebagai Panggung Krapyak.
Namun, kalau Anda bertanya kepada kami, orang-orang yang tinggal dan tumbuh di selatan Yogyakarta nama itu terdengar terlalu berjarak.
Kami lebih akrab menyebutnya dengan satu nama yang sarat akan sejarah, yakni Kandang Menjangan.
Jejak Hutan Lebat dan Perburuan Sang Raja
Mengapa disebut Kandang Menjangan? Jawabannya membawa kita mundur jauh ke masa awal berdirinya Kesultanan Mataram Islam.
Ratusan tahun lalu, kawasan Krapyak bukanlah area permukiman padat dan jalan aspal yang riuh oleh bunyi klakson seperti sekarang.
Area ini dulunya adalah Alas Krapyak, sebuah hutan lebat yang sangat luas dan rimbun, yang menjadi habitat bagi berbagai satwa liar, terutama rusa atau menjangan.
Pada masa pemerintahan Sultan Anyakrawati (Raden Mas Jolang) yang bertakhta pada awal abad ke-17, hutan ini difungsikan sebagai area perburuan keluarga kerajaan.
Bangunan segi empat berlantai dua yang kini kita lihat sehari-hari itu, dulunya berfungsi sebagai pos pantau sekaligus tempat peristirahatan raja saat sedang berburu.
Dari lantai atas yang memiliki jendela-jendela terbuka, raja dan kerabatnya bisa memantau pergerakan hewan buruan.
Sementara di bagian bawahnya berfungsi sebagai tempat menampung atau mengandangkan menjangan hasil buruan tersebut.
Sejarah bahkan mencatat bahwa Sultan Anyakrawati meninggal dunia saat sedang berburu di kawasan hutan ini, sehingga beliau mendapat gelar anumerta Seda ing Krapyak (Wafat di Krapyak).
Sebuah peristiwa dramatis yang semakin mengukuhkan ikatan batin bangunan ini dengan masa lalu Mataram.
Ruang Hening di Tengah Bisingnya Zaman

Hari ini, kalau kita melintas di kawasan Krapyak, Kandang Menjangan berdiri seperti seorang kakek tua yang tabah menyaksikan perubahan zaman.
Dinding bata merahnya yang tebal dan pintu-pintu melengkungnya seolah menjadi benteng yang memisahkan masa lalu dari hiruk-pikuk modernitas.
Wisatawan mungkin lebih memilih menghabiskan waktu di kafe-kafe kekinian di Prawirotaman atau berburu senja di Pantai Parangtritis.
Tempat wisata ini jarang sekali sesak oleh pengunjung. Namun, justru di situlah letak pesona magisnya.
Berdiri di dekat Kandang Menjangan, meraba dinding batanya yang dingin di bawah bayang-bayang pohon beringin yang menaunginya, memberikan kita sebuah jeda.
Tempat ini bukan sekadar spot foto atau tembok tua yang kebetulan berada di tengah persimpangan jalan.
Ia adalah pengingat visual dari tata Kota Yogyakarta yang penuh perhitungan.
Kalau Tugu mengajarkan kita tentang arah dan tujuan akhir (Tuhan), maka Kandang Menjangan mengajarkan kita dari mana kita berasal.
Bagi warga sekitar, Kandang Menjangan bukan sekadar tempat wisata, melainkan identitas kultural.
Di tengah arus pembangunan kota yang terus melaju dan mengubah wajah Yogyakarta menjadi lautan beton, bangunan ini tetap tegak menjaga garis imajinernya.
Sebuah monumen kesunyian yang terus bercerita tentang derap kuda, lesatan anak panah, dan raja-raja yang pernah berkuasa di Tanah Jawa.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: pinterest.com, yogyaku.com


Tinggalkan Balasan