Industri perfilman di Indonesia selama bertahun-tahun didominasi oleh genre horor dan drama romantis.
Di tengah jenuhnya pasar sinema di Indonesia, sutradara Angga Dwimas Sasongko bersama rumah produksi Visinema Pictures mengambil langkah berani dengan mengeksplorasi genre baru.
Genre ini masih sangat jarang disentuh dalam perfilman nasional, yakni genre heist (pencurian) berskala besar dengan nilai produksi yang ambisius.
Kehadiran film Mencuri Raden Saleh (2022) bukan sekadar pembuktian atas kapasitas teknis penyutradaraan di Indonesia.
Kehadiran film ini merupakan sebuah lompatan eksperimen yang berhasil menyatukan hiburan populer dengan muatan kritik ideologis yang pekat.
Film ini tidak tampil sebagai hiburan kosong yang mengagungkan aksi kriminalitas demi estetika semata.
Sebaliknya, film ini dengan sangat cerdas menjadikan formula narasi pencurian sebagai media untuk memaparkan hubungan yang rumit dan bersifat korupsi.
Menggabungkan antara kekuasaan politik, penimbunan kekayaan, serta manipulasi nilai sejarah dan seni.
Isu utama yang diangkat berakar pada bagaimana kelas penguasa mereduksi mahakarya kebudayaan bangsa menjadi instrumen politik pribadi.
Nilai penting dari karya ini terletak pada kemampuannya mengemas kritik sosial politik yang berat dan sensitif ke dalam sebuah tontonan populer bergaya urban modern.
Dengan pengemasan sedemikian rupa, film ini menjadi sangat dekat dengan realitas generasi muda saat ini.
Film Mencuri Raden Saleh berhasil memanfaatkan formula genre heist untuk membongkar kebobrokan struktur kekuasaan elit politik.
Film ini juga memperlihatkan bagaimana hukum serta karya seni dimanipulasi untuk menindas kelas sosial di bawahnya.
Sinopsi Singkat

Alur cerita berpusat pada tokoh Piko, seorang mahasiswa seni rupa berbakat yang terjebak dalam himpitan finansial akut.
Ia membutuhkan uang dalam jumlah besar demi membebaskan ayahnya dari jeratan penjara.
Kondisi ini memaksa Piko untuk masuk ke dunia kriminal dengan menerima tawaran ilegal untuk memalsukan lukisan legendaris Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh.
Namun, situasi perlahan berubah menjadi jebakan yang sangat rumit.
Saa itu, Piko dan Ucup, sahabatnya yang seorang peretas andal menyadari bahwa mereka telah dimanipulasi oleh Permadi.
Permadi adalah seorang mantan presiden korup yang memiliki pengaruh kuat di lingkaran elit politik kekuasaan.
Permadi memaksa mereka untuk melakukan misi yang hampir mustahil.
Ia meminta mereka mencuri lukisan Raden Saleh yang asli, langsung dari tempat penyimpanan dengan pengamanan paling ketat di negara ini, yaitu Istana Negara.
Demi melancarkan aksi nekat tersebut, Piko dan Ucup mengumpulkan sebuah tim amatir yang terdiri dari remaja dengan keahlian spesifik, namun dipersatukan oleh kerentanan sosial yang serupa.
Tim tersebut beranggotakan Giyan sang perencana logistik, Sarah sang petarung yang mengandalkan kekuatan fisik.
Tak hanya itu, Tuktuk sang pembalap liar sebagai pengemudi evakuasi, serta Fella, seorang mahasiswa dari kelas atas yang bertindak sebagai negosiator dan pengatur strategi finansial.
Siasat pencurian yang pada awalnya murni didorong oleh motif bertahan hidup dan kebutuhan finansial personal, secara drastis berubah menjadi misi perlawanan kolektif dan pembalasan dendam yang terstruktur.
Transformasi ini terjadi setelah mereka menyadari bahwa mereka hanyalah pion yang hendak dikorbankan oleh lingkaran elit penguasa demi menutupi skandal korupsi yang lebih besar.
Di bawah bayang-bayang kejaran aparat kepolisian yang korup dan ancaman represif dari sang penguasa.
Enam remaja ini terpaksa mengerahkan seluruh kecerdikan, modal sosial, dan taktik mereka demi menuntut keadilan dari sistem hukum yang telah membusuk dari dalam.
Simbolisme Lukisan Raden Saleh sebagai Poros Perlawanan Kolonialisme Baru
Secara inti, objek utama pencurian dalam film ini yakni lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, bukan sekadar elemen plot biasa.
Film ini melakukan pembongkaran makna sejarah secara kiasan melalui lukisan tersebut.
Dalam catatan sejarah nyata, lukisan Raden Saleh merupakan bentuk resistensi kebudayaan visual terhadap kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda.
Lukisan ini digambarkan lewat sudut pandang, yakni tunduknya Diponegoro dalam versi pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman.
Namun, dalam semesta narasi Mencuri Raden Saleh, makna lukisan tersebut mengalami pergeseran fungsi dan beralih makna menjadi simbol penindasan kontemporer.
Lukisan tersebut kini dikuasai, dipalsukan, dan ditimbun oleh para pejabat dan politikus korupsi seperti tokoh Permadi yang merepresentasikan pemerintah dari kelompok tertentu di Indonesia.
Kekayaan sejarah bangsa diserap oleh penguasa untuk melegitimasi status sosial dan kekuasaan mereka.
Ketika Piko dan kawan-kawannya memutuskan untuk memalsukan dan mencuri kembali lukisan tersebut, tindakan kriminal itu mengalami perubahan makna.
Aksi pencurian tersebut berubah menjadi sebuah aksi politis untuk merebut kembali narasi sejarah dan keadilan yang telah dirampas oleh elit penguasa.
Proses memalsukan kanvas dan menukar lukisan asli di dalam Istana Negara merefleksikan suatu hal.
Bagaimana realitas hukum dan kebenaran di negara ini sebenarnya sangat mudah dipalsukan dan dimanipulasi oleh mereka yang memiliki kuasa dan modal.
Representasi Kesenjangan Kelas melalui Latar Spasial dan Dinamika Karakter
Kritik terhadap stratifikasi sosial dalam film ini dieksekusi secara tajam melalui latar tempat dan pembagian latar belakang ekonomi para karakternya.
Sutradara secara konsisten memperlihatkan dikotomi visual yang timpang.
Di satu sisi, kita melihat ruang hidup kelas pekerja bawah dan mahasiswa marginal yang direpresentasikan melalui latar bengkel kumuh yang berdebu, jalanan tikus perkotaan, serta kamar kos sempit tempat Piko dan Ucup merancang strategi mereka.
Latar-latar domestik ini digambarkan padat, pengap, dan penuh ketidakpastian ekonomi.
Di sisi lain, film menyuguhkan ruang-ruang steril milik kelas borjuis dan oligarki, seperti mansion mewah milik Permadi yang megah terisolasi, galeri seni eksklusif yang mahal, serta koridor Istana Negara yang angkuh.
Kesenjangan sosial ini menegaskan adanya tembok besar tak kasat mata yang memisahkan akses keadilan antar-kelas.
Ketimpangan ini semakin menarik ketika dianalisis melalui kehadiran karakter Fella.
Sebagai representasi dari golongan menengah ke atas (anak orang kaya yang terbiasa hidup dengan spekulasi saham dan judi kartu), Fella menempati posisi yang unik dalam dinamika kelompok.
Alih-alih mempertahankan kenyamanan kelas sosialnya, Fella memilih untuk pergi dari lingkaran sosialnya, lari, dan bersekutu dengan anak-anak muda kelas pekerja.
Kehadiran Fella memperlihatkan bahwa perlawanan terhadap oligarki membutuhkan taktik silang kelas ia membawa modal kapital dan jaringan psikologis yang tidak dimiliki oleh Piko atau Tuktuk.
Relasi antar karakter ini mencerminkan skeptisisme akut generasi muda terhadap institusi negara, di mana solidaritas horizontal antar kelas bentukan mereka sendiri dianggap jauh lebih tepercaya daripada janji penegakan hukum dari aparat bentukan penguasa.
Estetika Audio Visual dalam Membangun Ketegangan Pencurian
Dari aspek teknis, Mencuri Raden Saleh menunjukkan kematangan eksekusi sinematografi yang secara langsung mendukung arah argumentasi naratifnya.
Penggunaan kamera yang dinamis, seperti teknik handheld camera dan tracking shots yang intens selama sekuens perencanaan dan eksekusi pencurian, berhasil memindahkan kecemasan dan adrenalin karakter langsung ke hadapan penonton.
Pacing editing yang bergerak cepat dan ritmis memastikan bahwa durasi film yang panjang tidak kehilangan momentum ketegangannya.
Selain itu, aspek tata warna dalam film ini memegang peranan penting dalam membangun atmosfer kriminalitas urban modern.
Penggunaan warna-warna kontras, perpaduan antara pencahayaan neon yang pekat di wilayah subkultur anak muda dengan warna-warna hangat namun intimidatif di dalam ruang kekuasaan, menegaskan adanya konflik ideologis yang laten di sepanjang film.
Seluruh visualisasi taktis ini dijahit dengan sangat rapi oleh tata suara yang presisi dan pilihan musik latar yang ritmis.
Musik dalam film ini berfungsi sebagai detak jantung narasi, menghidupkan energi pemberontakan kolektif khas generasi muda yang menolak tunduk pada kesewenang-wenangan struktural.
Penilaian terhadap Karya
Salah satu kekuatan utama dari film ini terletak pada pengembangan karakter yang sangat seimbang melalui penerapan formula pemeran ansambel.
Dalam film dengan banyak karakter utama, risiko terbesar adalah adanya karakter yang tenggelam atau sekadar menjadi tempelan.
Namun, Angga Dwimas Sasongko berhasil memberikan ruang pertumbuhan yang adil bagi keenam remaja tersebut.
Masing-masing memiliki motivasi personal, luka batin, dan urgensi finansial yang solid, sehingga penonton dapat bersimpati secara mendalam terhadap tindakan kriminal yang mereka lakukan.
Selain itu, kualitas produksi teknis yang sangat tinggi mulai dari sinematografi yang rapi, efek visual yang meyakinkan, hingga koreografi aksi perkelahian yang realistis berhasil menaikkan standar baku genre aksi komersial di industri perfilman Indonesia.
Yang paling patut diapresiasi adalah keberhasilan film ini dalam mengintegrasikan kritik sosial-politik yang berbobot secara subtil ke dalam alur hiburan komersial.
Film ini tidak terasa seperti propaganda yang menggurui, melainkan sebuah refleksi realitas yang disajikan lewat sudut pandang yang sangat menghibur.
Meskipun memiliki banyak keunggulan, film ini tidak luput dari celah naratif. Durasi film yang mencapai 2 jam 34 menit terasa agak terlalu panjang.
Akibatnya, pada paruh kedua film terutama menjelang transisi dari rencana pencurian pertama ke rencana balasan alur cerita terasa sedikit melambat, bertele-tele, dan berpotensi melelahkan penonton sebelum akhirnya berhasil ditebus kembali pada babak klimaks.
Kelemahan lainnya terletak pada munculnya beberapa unsur kebetulan dalam plot yang terasa terlalu mulus dan kurang realistis.
Sistem pengamanan Istana Negara yang dalam realitas nyata dijaga ketat oleh paspampres dan teknologi tingkat tinggi, dalam film ini digambarkan memiliki beberapa celah fatal yang agak terlalu mudah ditembus oleh sekelompok remaja amatir.
Pengabaian terhadap beberapa detail logika keamanan demi memuluskan dramatisasi strategi pencurian ini sedikit mengurangi kadar ketegangan taktis yang telah dibangun sejak awal.
Secara garis besar, Mencuri Raden Saleh merupakan salah satu pencapaian sinema pop kontemporer terbaik yang pernah dilahirkan di Indonesia.
Film ini berhasil membuktikan bahwa sebuah film aksi komersial berskala besar tidak harus mengorbankan kedalaman makna ideologis demi mengejar angka penjualan tiket di bioskop.
Film ini sangat direkomendasikan untuk disaksikan oleh para penikmat film taktis-strategi, pencinta seni rupa, serta khususnya generasi muda yang kerap merasakan keresahan yang sama terhadap ketidakadilan sistemik dan penyalahgunaan kekuasaan di ranah sosial.
Nilai penting yang ditinggalkan oleh mahakarya Angga Dwimas Sasongko ini terletak pada pesan moral dan sosialnya yang sangat tegas.
Film ini menegaskan karya seni, narasi sejarah, dan hak atas keadilan sejati adalah milik publik yang harus direbut kembali secara kolektif, bukan komoditas eksklusif yang boleh dimonopoli dan dimanipulasi oleh segelintir penguasa yang korupsi.
Identitas Karya:
Judul : Mencuri Raden Saleh
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Tahun Rilis : 2022
Durasi : 2 Jam 34 Menit
Genre : Heist (Pencurian), Aksi, Kriminal, Drama
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UAS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: pinterest