TAWA SASTRA – Yogyakarta sering digambarkan sebagai kota yang penuh kenangan, tenang, dan dekat dengan suasana romantis.
Gambaran tersebut kembali terasa dalam lagu “Jogja Lantai Dua” yang dibawakan oleh Fanny Soegi bersama Heruwa.
Lagu ini tidak hanya menghadirkan keindahan Jogja melalui melodi, tetapi juga melalui pilihan bahasa yang puitis dan hangat.
Salah satu hal yang menarik dari lagu ini adalah penggunaan diksi yang sederhana, tetapi mampu membangun suasana yang kuat.

Frasa seperti “motor tua”, “digoda angin”, dan “dirayu malam” membuat pendengar seolah ikut berada dalam perjalanan menyusuri jalanan Jogja.
Kata-kata tersebut tidak terdengar rumit, tetapi memiliki daya imajinasi yang besar.
Bahasa dalam lagu ini terasa lembut dan mengalir, sehingga pendengar dapat merasakan suasana santai khas Yogyakarta.
Selain itu, istilah “Jogja lantai dua” juga memiliki makna yang unik.
Istilah tersebut merujuk pada wilayah selatan Yogyakarta yang berada di area perbukitan, khususnya daerah Gunungkidul yang dikenal memiliki panorama alam indah dan suasana lebih tenang.
Penggunaan istilah ini menunjukkan bagaimana bahasa dapat membentuk identitas suatu tempat.
Jogja tidak hanya digambarkan sebagai kota wisata biasa, tetapi sebagai ruang yang penuh ketenangan dan kehangatan.
Lagu ini juga memperlihatkan gaya bahasa personifikasi.
Alam digambarkan seolah hidup dan mampu berinteraksi dengan manusia, seperti pada bagian pohon yang “menyampaikan salam” atau angin yang “menggoda.”
Penggunaan gaya bahasa tersebut membuat suasana lagu terasa lebih hidup dan emosional.
Pendengar tidak hanya membayangkan tempat, tetapi juga merasakan hubungan antara manusia dan alam.
Di sisi lain, bahasa dalam lagu ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tidak ada kata-kata yang terlalu berat, tetapi tetap terdengar indah.
Hal inilah yang membuat lagu “Jogja Lantai Dua” mudah diterima banyak orang, terutama anak muda yang menyukai lirik sederhana namun bermakna.
Lagu ini membuktikan bahwa bahasa yang lembut dan puitis masih memiliki tempat di tengah tren musik modern.
Pada akhirnya, lagu “Jogja Lantai Dua” menunjukkan bahwa bahasa memiliki kekuatan untuk membangun suasana dan menghadirkan kenangan.
Melalui pilihan kata yang sederhana, Jogja digambarkan bukan hanya sebagai kota, tetapi sebagai pengalaman yang hangat dan sulit dilupakan.
Inilah yang membuat lagu tersebut terasa dekat di hati banyak pendengar.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: kapanlagi