Jika ada benda yang paling sering menemani mahasiswa tingkat akhir selain laptop, jawabannya mungkin adalah kopi.
Entah kopi saset, kopi kafe, atau kopi buatan sendiri di kos. Masalahnya, kopi itu sering berakhir dingin sebelum habis diminum.
Bukan karena tidak enak, melainkan karena pemiliknya terlalu sibuk mikirin revisi, deadline, dan chat dosen pembimbing yang belum dibalas dari kemarin.
Begitulah hidup mahasiswa tingkat akhir sekarang.
Kelihatannya sederhana: tinggal ngerjain skripsi lalu wisuda. Padahal kenyataannya nggak semudah itu.
Skripsi sering menjadi fase paling melelahkan selama kuliah. Bukan hanya soal penelitian atau menulis puluhan halaman, namun soal bertahan dengan rasa lelah sendiri.
Di era sekarang, tekanan mahasiswa rasanya semakin besar.
Media sosial membuat semuanya terlihat seperti perlombaan. Baru membuka Instagram sebentar, sudah lihat teman upload foto seminar proposal, sidang sampai foto menggunakan toga.
Sementara diri sendiri masih sibuk dengan format Daftar Pustaka atau revisi Bab 2 yang tak kunjung usai.

Pada akhirnya mahasiswa banyak yang overthinking. Merasa tertinggal. Merasa gagal hanya karena prosesnya tidak secepat orang lain.
Padahal setiap orang punya jalan dan waktunya masing-masing. Ada yang cepat selesai, ada pula yang harus jatuh bangun sebelum akhirnya lulus.
Belum lagi ada drama klasik yang seolah wajib dialami anak skripsi. Laptop yang tiba-tiba eror sebelum bimbingan, file hilang, dosen yang susah ditemui, atau revisi yang datang tanpa henti.
Kadang yang membuat lelah bukanlah tugas akhirnya, namun pikiran diri sendiri yang membuat takut tidak dapat selesai tepat waktu.
Semakin lucunya adalah, meski sering bilang “menyerah” kebanyakan mahasiswa tetap lanjut juga.
Tetap buka laptop pada malam hari. Tetap mencicil revisi walau sambil mengeluh. Tetap datang bimbingan walau jantung berdebar-debar.
Karena di balik semua rasa lelah itu, ada mimpi yang harus dicapai.
Mimpi untuk lulus. Mimpi untuk membuat orang tua bangga. Mimpi untuk membuktikan bahwa diri sendiri bisa bertahan sejauh ini.
Mungkin itu alasan mengapa skripsi selalu menjadi cerita yang tidak gampang dilupakan. Karena pada akhirnya, tugas akhir bukan hanya soal nilai atau gelar.
Skripsi adalah cerita tentang perjuangan anak muda yang sedang belajar kuat di tengah tekanan hidupnya sendiri.
Banyaknya tumpukan revisi, kopi yang menjadi dingin, dan tidur yang semakin berantakan, mahasiswa sebenarnya sedang memperjuangkan masa depannya di antara semua kerumitan semasa kuliah tahap akhir.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: pinterest