TAWA SASTRA – Di tengah hangatnya suasana Ramadan di Yogyakarta, kisah Bu Siti menjadi potret sederhana tentang perjuangan dan ketulusan.
Perempuan paruh baya itu sehari-hari berjualan kolak dan es buah di kawasan Malioboro.
Lapak kecilnya mulai ramai menjelang waktu berbuka, ketika para pejalan kaki dan wisatawan berburu takjil untuk melepas dahaga.
Setiap hari selama Ramadan, Bu Siti sudah bangun sejak pukul dua dini hari. Ia menyiapkan bahan-bahan seperti pisang, ubi, santan, dan gula merah untuk diolah menjadi kolak.
Meski usianya tak lagi muda, semangatnya tetap terjaga.
“Ramadan ini justru bikin saya lebih semangat. Banyak pembeli. Jadi,bisa nabung sedikit buat keluarga,” tuturnya sambil mengaduk panci besar di dapur sederhana rumahnya.

Tak hanya soal mencari nafkah, Bu Siti juga menjadikan Ramadan sebagai momen berbagi. Ia sering memberikan kolak gratis kepada tukang becak atau anak-anak jalanan yang lewat di sekitar tempat jualannya.
Baginya, berbagi di bulan suci adalah bentuk rasa syukur atas rezeki yang diterima. “Nggak harus banyak, yang penting ikhlas,” ujarnya dengan senyum hangat.
Kehadiran Bu Siti sudah dikenal oleh banyak pelanggan setia. Beberapa di antaranya bahkan sengaja datang setiap Ramadan hanya untuk menikmati kolak buatannya.
Selain rasanya yang khas, pembeli merasa nyaman dengan keramahan Bu Siti.
Suasana sederhana di lapaknya menjadi tempat berkumpul yang penuh keakraban menjelang waktu berbuka.
Kisah Bu Siti mencerminkan wajah Ramadhan di Yogyakarta yang penuh kehangatan dan kebersamaan.
Di tengah hiruk pikuk kota wisata, masih ada sosok-sosok yang menjaga nilai kepedulian dan kerja keras.
Melalui langkah kecilnya, Bu Siti membuktikan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mempererat hubungan antar manusia dengan penuh ketulusan.